Penyakit Keratoconus

Keratoconus, mungkin banyak dari kita yang belum familiar dengan istilah ini. Sebenarnya, apa itu keratoconus ? keratoconus merupakan suatu gangguan atau kelainan fungsi dari mata, yakni tearjadiny perubahan srtuktur dari kornea, yang menyebabkan kornea menjadi lebih tipis. Penyebaran dari kelainan keratoconus ini sendiri terjadi dalam 1 dalam 500 hingga 1 dalam 2000 orang. Mungkin memang suatu kelainan yang tergolong jarang ditemui. Di Indonesia sendiri, kelainan mata seperti ini juga masih jarang kasusnya.

Penyebab

Pada dasarnya, faktor penyebab keratoconus belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian menyatakan bahwa keratoconus terjadi sebagian besar pada kawasan-kawasan Asia Selatan. Selain itu, faktor-faktor berikut ini juga disinyalir menjadi penyebab dari keratoconus, yaitu :

1. Faktor gen atau keturunan

Faktor gen dan keturunan merupakan salah satu faktor yang dinilai menjadi penyumbang terbesar terjadinya keratoconus pada seseorang. Penyakit ini, merupakan kelainan yang diturunkan dan sulit diketahui penyebab pastinya.

2. Faktor etnis

Faktor etnis merupakan faktor resiko tinggi seseorang dapat mengalami keratoconus. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, etnis yang tinggal di Asia Selatan memiliki faktor resiko tinggi mengalami keratoconus. Namun demikian, penduduk di seluruh dunia pun memiliki potensi mengalami keratoconus juga.

3. Aktivitas enzim di dalam kornea

Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini, namun adanya aktivitas enzim tertentu di dalam kornea membuat kornea mata anda akan mengalami keratoconus.

Gejala

Sama seperti kelainan-kelainan organ tubuh lainnya, keratoconus juga memiliki gejala-gejala yang muncul pada penderitanya, terutama adalah gejala pada bagian penglihatan. Berikut ini gejala-gejala umum dari keratoconus :

1. Rabun atau sulit melihat dengan jelas

Gejala ini sama seperti gejala mata minus, mata plus, atau mata silinder serta gangguan penglihatan mata lainnya. Kesulitan dalam melihat, biasanya akan dibawa pergi ke dokter mata untuk membuat kacamata. Padahal, gejala ini bisa saja muncul muncul sebagai tahapan awal dari keratoconus, namun masih belum terdeteksi bahwa mengalami keratoconus.

Ketika keratoconus sudah berkembang dan bertambah parah, anda mungkin akan merasakan beberapa hal seperti ini :

  • Penglihatan berkurang secara cepat
  • Sulit melihat
  • Kesulitan melihat pada malam hari
  • Photophobia (sensitive terhadap cahaya)
  • Sakit pada mata ketika sedang membaca
  • Rasa gatal pada mata

2. Penglihatan ganda dan berbayang

Ketika memiliki gangguan mata minus, mungkin bisa merasakan penglihatan terhadap objek yang berbayang. Namun, pada penderita keratoconus, objek tidak hanya berbayang, namun seolah-olah objek yang dilihat menjadi berlipat ganda. Hal ini juga dikenal dengan istilah monocular polyopia. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

  • Objek akan terlihat berlipat ganda dalam pola-pola yang tidak teratur
  • Objek terasa berbayang
  • Terkadang, suatu objek tidak hanya terlihat berlipat ganda, namun dapat membentuk suatu pola lain
  • Mengalami distorsi cahaya dan sinar
  • Melihat objek mengalami pergerakan

Diagnosa

Untuk mendiagnosa apakah anda memiliki kelainan keratoconus atau tidak, maka anda harus melakukan pemeriksaan ke dokter mata. Biasanya, para ahli mata atau dokter mata akan melakukan beberapa asesmen atau pengukuran medis pada anda, untuk memastikan kelainan mata yang anda miliki, berupa :

1. History medis

History medis dilakukan untuk melihat beberapa hal berikut ini :

  • Gangguan mata yang pernah dialami
  • Faktor gen dan keturunan
  • Melihat apakah pernah mengalami kecelakaan dan mempengaruhi kornea mata
  • Histori medis (penyakit yang pernah diderita, gangguan mata yang pernah muncul, obat-obatan yang sering dikonsumsi dan kondisi kesehatan mata)

2. Melakukan tes penglihatan

Setelah melakukan histori medis, maka anda akan dihadapkan kepada tes berikutnya, yaitu test penglihatan dengan menggunakan optotype snellen. Ini merupakan proses yang sangat panjang, karena dokter harus mencocokan lensa tambahan yang cocok bagi pasien, ketika melakukan test ini. Test ini nantinya akan dapat menunjukan kondisi keratoconus ketika ternyata penglihatan menunjukan tanda-tanda asigmatis yang tidak wajar.

3. Retinoscopy

Retinoscopy merupakann teknik pencahayaan yang dipancarkan ke dalam retina, untuk melihat reflek dari mata. Dengan menggunakan metode ini, keratoconus dapat terdeteksi dengan mudah.

Setelah melakukan test dan pemeriksaan medis, keratoconus diklasifikasikan menjadi beberapa tahapan, yang didasari oleh ketebalan kornea, sudut lengkungan kornea dan morfologi dari cones pada mata. Berikut ini tahapannya :

  1. Stage 1 – Pada stage ini, kondisi kornea mata berada pada sudut lebih kecil dari 48 derajat, dengan tambahan miopi dan atau astigmata.
  2. Stage 2 – Pada stage ini, ketebalan kornea menjadi lebih tebal, yaitu lebih besar atau sama dengan 400 nanometer, dengan sudut kornea lebih kecil atau sama dengan 53 derajat.
  3. Stage 3 – Pada stage ini, ketebalan kornea berada pada level 200 – 400 nanometer, dengan sudut kornea lebih besar dari 53 derajat.
  4. Stage 4 – Pada stage terakhir ini, biasanya kornea sudah memiliki sudut yang melebar, yaitu lebih dari 55 derajat, dengan ketebalan kurang dari 200 nanometer.

Pengobatan

Sejauh ini, belum ada penelitian yang menunjukan bagaimana keratoconus dapat dicegah. Yang ada hanyalah bagimana cara membantu memperbaiki penglihatan penderita keratoconus dan bagaimana mengurangi gejala-gejala yang timbul karena keratoconus.

Untuk membantu penglihatan dari penderita keratoconus, maka pasien dapat menggunakan lensa kontak yang lembut (ketika masih berada pada tahapan awal) dan menggunakan lensa kontak yang kaku atau rigid ketika sudah masuk ke tahapan yang semakin parah. Hal ini dapat membantu memperbaiki penglihatan dari penderita keratoconus.

Beberapa hal ini dapat membantu mata, mengurangi gejala-gejala dari keratoconus :

  1. Keraflex atau Thermoplasty – Merupakan teknik yang dilakukan dengan menggunakan gelombang mikro untuk meratakan sudut kornea agar menjadi seperti normal lagi.
  2. Myoring – Myoring merupakan suatu teknik implant yang digunakan dengan cara menanamkan atau memasukan sejenis ring ke dalam kornea. Myoring merupakan suatu alat yang sudah dipatenkan, dan dapat digunakan untuk penanganan keratoconus dalam semua tahapan atau stages.

Itulah beberapa informasi penting mengenai keratoconus. Semoga dapat bermanfaat.

 Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *